Minggu, 29 Desember 2019

Tentang Madura

Tentang Madura
Hallo teman-teman 😁
Selamat membaca 😊

1. Kebiasaan Menikah Muda di Madura
Menikah muda di Madura adalah hal yang sangat biasa. Kamu tak perlu terkejut ketika mengetahui rata-rata muda-mudi di sana yang usianya masih belasan tahun sudah banyak yang menikah. BKKBN memang menyarankan umur tertentu sebagai patokan untuk usia pernikahan. Namun hal ini bukan jadi penghalang bagi orangtua-orangtua di sana untuk menikahkan anaknya yang masih belia itu. Rata-rata, gadis di Madura sudah bisa dipinang ketika menginjak usia 14 tahun. Orangtua si gadis pun takkan keberatan menikahkan anaknya jika si calon mantu jika sudah sesuai dengan kriterianya. Kebiasaan menikah muda ini bukan tanpa alasan. Orang-orang Madura beranggapan jika hal ini akan mampu membuat anak-anaknya terhindar dari dosa, serta bisa mengurangi beban orangtua.

2. Tradisi Carok Masih Digaungkan
Orang Madura dikenal dengan watak mereka yang keras dan punya harga diri tinggi. Makanya, ketika menyelesaikan masalah, mereka kadang memilih cara yang keras pula. Salah satunya adalah dengan carok atau istilah lainnya duel sampai mati dengan menggunakan senjata tajam, biasanya celurit. Orang-orang Madura sendiri punya falsafah yang sudah mendarah daging. “Lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata” yang artinya lebih baik mati daripada malu. Makanya, mereka akan melakukan apa pun ketika merasa harga dirinya diinjak-injak atau diperlakukan tak adil.

3. Penggunaan Bahasa Multi Level dan Dialek yang Berbeda
Kita mengenal bahasa multi level sebagai ciri khas Jawa. Siapa sangka ternyata Madura juga punya hal yang semacam ini. Di Jawa ada yang namanya ‘Ngoko’, ‘Krama, dan ‘Krama Inggil’, maka di Madura kita juga mengenal sistem yang sama namun beda istilah. ‘Ja’-iya’, ‘Engghi-Enthen’, dan juga ‘Engghi-Bunthen’. Penggunaan bahasa multi level ini sama persis seperti yang ada di Jawa, kosa kata berubah tergantung siapa yang kita ajak bicara. Keunikan lain soal bahasa, orang-orang Madura juga punya dialek kedaerahan sendiri, sama seperti Mandarin. Di Madura akan ada dialek Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, Bawean, Sampang, dan juga Sapudi yang masing-masing memiliki kekhasan sendiri. Namun yang lebih sering dipakai sebagai acuan adalah Sumenep karena faktor kebiasaan raja-raja Madura dulu.

4. Orang Madura Sangat Patuh Terhadap Kyai-nya
Hal yang patut kita apresiasi tentang orang Madura adalah tingkat relijius mereka yang tinggi. Madura mayoritas beragama Islam dengan bukti banyaknya masjid serta pusat-pusat pembelajaran agama atau pondok di sini. Makanya, orang Madura selalu dicirikan dengan label pesantren mereka. Hampir semua orang Madura belajar di pesantren. Sehingga tak heran jika mereka begitu menghormati para kyai dan ustadnya. Bahkan ada sebuah jargon unik tentang ini, orang-orang Madura sejahat apa pun pasti akan sangat patuh dengan kyai-nya. Hal ini bisa dibilang adalah sesuatu yang bagus karena hormat kepada guru mencerminkan adab yang baik. Terlebih lagi, berkat para guru pula seseorang bisa mengenal ilmu dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

5. Tujuan Hidup Semua Orang Madura Sama, Berhaji
Kita tahu bagaimana uletnya orang-orang Madura dalam melakukan usaha. Entah ketika bekerja, berdagang dan sebagainya. Tujuan mereka sendiri rata-rata hanya satu. Ya, bisa mengumpulkan uang untuk kemudian dipakai berhaji ke tanah suci. Jika tak percaya tentang ini. Bagi orang Islam, berhaji memang jadi penyempurna ibadah. Hal ini pula yang jadi alasan orang Madura sebisa mungkin harus berangkat haji. Namun, kadang mereka seringnya terlalu memaksakan diri. Meskipun tahu kondisi finansialnya belum memungkinkan, orang-orang Madura akan maksa agar bisa ke tanah suci. Entah itu berhutang atau semacamnya. Satu lagi, predikat haji di sana juga jadi kebanggaan tersendiri.

Terimakasih teman-teman 😁

Tentang Madura

Tentang Madura Hallo teman-teman 😁 Selamat membaca 😊 1. Kebiasaan Menikah Muda di Madura Menikah muda di Madura adalah hal yang sanga...